RSS

Hantu

11 Feb

#CeritaUntukKamu 11 Februari 2012

“Kita putus!”
“Apa? Putus?!?!? Emang aku salah apa?!?!? Aku nggak pernah salah dihadapanmu kan??”
“Iya, emang enggak. Tapi…nggak tahu kenapa, aku pingin putus aj!” aku langsung lari terbirit-birit meninggalkan sekolah.
“Ninda, tunggu!! Ninda!!” Edo terus saja memanggil namaku. Tapi aku pura-pura tak mendengarnya. Aku terus berlalu hingga akhirnya aku benar-benar tak terlihat lagi olehnya.

Ya..itu kegagalan cintaku yang kedelapan, eh bukan, kesembilan. Aku bukan seorang playgirl. Anggap saja aku begitu karena berusaha lari dari masa laluku. Walaupun pada akhirnya aku nggak bisa. Ah aku benci masa lalu! Bagiku, masa lalu adalah obat yang paling pahit dalam hidupku. Sejak aku putus dari seorang cowok bernama Vino, aku merasa tak bisa mencintai siapa pun lagi. Kenapa? Aku aja nggak tahu kenapa! Aku nggak bisa menemukan jawabannya hingga sampai saat ini. Aku berpacaran dengan ini itu hanya berusaha menghilangkan DIA dari pikiranku. Tapi apa hasilnya? Justru semakin aku mencoba melupakannya, semakin dia terus berenang dipikiranku. Pliss Vino!! Kamu itu kayak hantu yang setiap hari gentayangan dipikiranku. Bayanganmu seolah-olah masih sering ngingkutin aku. Apa perlu aku panggil paranormal buat ngusir kamu dari hatiku?? Sampai  aku duduk dibangku kuliah, aku udah nggak mau lagi untuk mencari cinta. Stop untuk saat ini! Aku nggak mau nyakitin siapa-siapa lagi. Mungkin aku harus terima kenyataan kalau aku emang nggak bisa nglupain dia. Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi aku baru bisa nglupain dia. Nggak pa-pa deh, jalanin aja semua ini. Semua pasti indah pada waktunya.

Tapiiiiii…..ini nggak indah! Apa coba yang aku terima dalam beberapa hari ini?? Undangan! Dan itu bukan sembarang undangan! Itu undangan pernikahan! Pernikahannya Vino!! Arrgggghhhh!!!! Apa-apaan ni cowok!! Ngirim-ngirim kayak gini ke aku!! Nggak perasaan banget tu orang!! Ngapain dia pake acara nikah-nikah segala!! Buat apa coba nikah muda!?!? Apa dia hamilin anak orang!?!? Atau keluarganya punya utang yang harus dibayar, terus Vino harus bayar dengan nikah sama anak si penagih utang!?!? Aahhh….kacau pikiran gue!!

Vino. Kamu itu nggak seganteng Vino G. Bastian. Tapi kenapa kamu bisa buat aku jadi kayak orang gila gini? Kamu cuma seorang Vino Prayudha yang nggak bisa matematika, nggak bisa berenang, dan nggak bisa nembak cewek. Butuh waktu 1 bulan buat kamu ngungkapin perasaanmu. Walaupun akhirnya, temenmu yang ngungkapin perasaanmu ke aku. Konyol ya? Kenapa aku mau aja nerima kamu dengan cara seperti itu? Tapi aku nggak bisa pungkiri, kharismamu itu bisa bikin cewek-cewek pada melting didepanmu. Termasuk aku. Cara kamu tersenyum, cara kamu ngomong, cara kamu nasehatin aku, itu semua nggak aku temui dicowok-cowok lain. Bahkan caramu mencintaiku itu berbeda. Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar buat kenangan kita. Kalau seandainya dulu kamu nggak deket sama cewek itu, mungkin aku nggak akan bertindak kayak gini. Aku tahu kamu nggak selingkuh. Mungkin aku yang terlalu egois. Nggak bisa terima lihat cowoknya deket sama cewek lain. Tapi, wanita mana yang bisa terima kalau lihat cowoknya setiap pulang sekolah, bareng sama cewek lain. Berangkat bareng dengan orang yang sama. Main bareng. Kadang-kadang malam minggu kamu nggak ke rumahku malah ke rumah dia. Mungkin kita yang masih terlalu labil. Karena umur kita yang seharusnya belum kenal yang namanya pacaran. Anak SMP itu pacaran kayak apa sih? Tapi sungguh, dulu aku bener-bener sayang sama kamu. Nggak hanya sekedar cinta monyet. Dan semuanya kini sudah berbeda. Kamu akan menikah. Kamu akan mengikat janji dengan seorang wanita. Nggak seharusnya aku mengingatmu lagi.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak Martadinata. Disekeliling terdapat banyak toko bunga. Aku berhenti disalah satu toko bunga langgananku. Seperti biasa aku mengambil pesanan Ibu sebuket bunga Cosmos untuk hiasan rumah. Aku masuk ke toko tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat Vino sedang melihat beberapa bunga di toko tersebut. Aku hendak membalikan badan, tapi tiba-tiba si penjual bunga memanggilku.
“Mbak Ninda, mau ambil pesanan ya?” aku berhenti melangkah. Vino juga tampaknya terkejut mendengar namaku disebut. Kami saling bertatapan.
“Ninda?” panggilnya masih tidak percaya kalau itu aku.
Aku hanya tersenyum kecil.
“Ninda kan?” ia lalu mendekatiku. Aduuhh rasanya aku ingin lari.
“Hai vin…” sapaku lirih. Ia lalu tersenyum lebar melihatku berdiri didepannya.

Singkat cerita ia lalu mengajakku ngobrol didepan toko bunga.
“Kamu sekarang kuliah dimana Nin?”
“UNY vin. Kamu udah lulus kan?”
“Belum. Udah semester 7 sih, ini baru ajukin skripsi,” aku hanya mengangguk.
“Ngg….kamu mau married ya?” tanyaku gugup. Vino agak terkejut dengan pertanyaanku.
Ia menghela nafas. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi wajahnya justru tidak menunjukkan rasa senang.
“Iya…” jawabnya singkat.
“Nin….”tiba-tiba ia memanggil namaku dengan lembut.
“Kamu nggak pa-pa?” ia bertanya sambil menatapku dengan penuh kasihan. Nggak pa-pa? Apa maksudmu? Hatiku hancur Vin!
“Maksudnya Vin?”
“Ngg…nggak pa-pa kok…”jawab Vino  lirih.
“Kamu tanya perasaanku?” Vino hanya menatapku.
“Aku udah nggak berhak untuk ngungkapin perasaanku Vin,” jelasku.
“Loh kok bisa?”
“Kamu akan menikah Vin. Untuk apa aku ngungkapin sesuatu yang justru membuatku hancur sendiri…”kataku.
“Tapi tanpa sengaja, kamu udah ngungkapin perasaanmu Nin…” aku terbengong. Bego banget gue! Ngapain aku ngomong kayak gitu. Oke deh Vin kamu berhasil mancing aku.

Aku menatap langit-langit kamarku. Pertemuan tadi itu membuatku semakin tak berdaya. Kenapa kamu harus datang disaat kamu akan ninggalin aku? Sewaktu dia minta no handphoneku, aku berpikir, mungkin nggak aku balikan sama dia? Nggak mungkin kan!? Seminggu lagi dia nikah. Aku juga nggak pernah tahu, apa kamu masih mencintaiku atau nggak. Kenapa aku masih bediri diatas masa laluku? Ketika aku membuka message dihandphoneku, kamu cuma bilang…
“Ini no.q nin, disave ya…:)”
Untuk apa aku nyimpen nomormu Vin? Seminggu lagi kamu nggak akan sms aku lagi. Aku hanya menangisi kebodohanku. Bodoh karena masih mencintaimu, dan bodoh karena masih mengharapkanmu.

Tuhan, kenapa Kau pertemukan aku lagi dengan dia? Pertemuan itu seolah-olah mengisyratkan kalau dia akan jadi milik orang lain untuk selamanya. Kalau memang dia bukan jodohku, hapuskan perasaan ini dari hatiku Tuhan. Lamunanku terbuyar ketika melihat message dari Vino.
“Nin..keluar…aku didepan rumahmu nih..” aku menatap keluar jendela. Betapa terkejutnya aku melihat dia berdiri didepan rumahku.
“Ngapain kamu kesini Vin?” tanyaku bingung.
“Hehe..nggak pa-pa. Abisnya kamu jarang bales smsku sih. Mending ketemu langsung sama orangnya,” jawabnya nyengir.
“Kamu nggak berubah ya? Udah jadi miliknya orang, masih aja apel cewek lain..” kataku sewot.
Vino terkejut.
“Namanya Fara….”tiba-tiba dia menyebutkan nama kekasihnya.
“Dia temen kuliahku. Dulu kita sering kerja kelompok bareng. Dia suka aku. Dia ngungkapin itu ke aku. Awalnya aku tolak. Tapi…sebulan kemudian dia nggak pernah masuk. Waktu aku jenguk ke rumahnya, teryata dia sakit jantung. Dia seneng banget waktu aku datang. Aku nggak tega Nin, aku terima dia. Mungkin seiring berjalannya waktu, aku bisa sayang sama dia. Aku akui sayang itu ada, tapi cinta itu belum ada….” jelasnya.
“Terus kenapa kamu nikahin dia, karena kasihan, karena takut dia mati gara-gara kamu??” tanyaku bengong.
“Nggak Nin. Awalnya, aku mantap nikah sama dia. Aku yakin sama perasaanku. Karena dia juga gadis yang baik. Tapi, sejak kemarin di toko bunga, kemantapkanku jadi hilang….” aku terpaku mendengar pernyataan Vino. Jadi semua ini gara-gara aku?? Jangan-jangan dia bakal batalin pernikahannya gara-gara aku??
“Gila kamu Vin! Seminggu lagi kamu nikah. Kamu nggak seharusnya ngomong kayak gitu ke cewek lain. Pernikahan itu sebuah upacara religius yang sakral. Kamu nggak seharusnya ambil keputusan kayak gitu,”
“Apa salah Nin aku masih cinta sama kamu? Cuma karena aku masih cinta sama kamu, Tuhan nggak akan menghukum aku kan? Aku aja nggak nyangka bakal ketemu kamu lagi. Aku akan tetap nikah Nin. Tapi aku pingin denger kejujuran dari kamu. Kamu masih cinta nggak sama aku?” aku terdiam mendengar pertanyaan Vino. Aku mau jawab apa? Percuma aku bilang ‘masih’ kalau pada akhirnya aku nggak bisa miliki dia.
“Kamu nggak seharusnya tanya kayak gitu ke aku Vin…aku nggak punya hak lagi punya perasaan ke kamu lagi,” jelasku.
“Oke, sekarang aku tahu jawabannya. Peryataanmu udah cukup buatku. Makasih Nin, udah ngasih perasaan yang luar biasa ke aku. Walaupun pada akhirnya, aku emang nggak bisa nglupain kamu. Aku pulang dulu Nin..” Vino berjalan menuju mobilnya.
Ya Tuhan rasanya aku ingin kejar. Nahan dia supaya nggak pergi. Sekarang aku benar-benar merasa kehilangan. Mendadak ada rasa nggak ingin kehilangan dia lagi. Aku menangisi kepergiannya. Maafin aku Vino, nggak ungkpain perasaanku. Aku hanya nggak ingin terluka terlalu dalam lagi.

Seminggu berlalu. Hari ini Vino menikah. Maaf Vino aku nggak bisa datang. Kamu udah memberiku cinta yang tulus diakhir pertemuan kita, walapun akhirnya kamu bersamanya. Biarkan aku simpan perasaan ini, karena memang aku nggak bisa ngelupain kamu. Aku membuka handphone membaca sekali lagi message Vino terakhir kalinya.
Ninda…makasih untuk semua ketulusan yang udah kamu berikan sama aku. Aku selalu cinta kamu nin. Cinta ini selalu buat kamu,meski kamu selalu pungkiri perasaanmu…”

Cerita yang cukup mengigit dari penulis kita bernama: @ichastika

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2012 in #CeritaUntukKamu

 

2 responses to “Hantu

  1. Adelia Ayu Mustikarini

    Februari 11, 2012 at 11:07 am

    Sumpah, terharu. Keren !🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: