RSS

Stasiun Ini

11 Feb

#CeritaUntukKamu 11 Februari 2012

20 Agustus 2007
Aku sedang duduk meneguk teh hangat pesananku di gerbong restorasi saat kudengar suara, “Permisi, apakah boleh saya ikut duduk disini?”
Aku mendongak dan tampaklah seorang lelaki dengan perawakan yang tak biasa membuyarkan lamunanku. Maksudku, dia tampak kecil untuk ukuran laki-laki. Apa ya namanya? Ah ya, ceking.
“Boleh, silakan saja,” aku menjawabnya dengan senyum.
Tiba-tiba, “Aku Riza, kamu?” dia mengulurkan tangannya.
Dengan agak tergeragap aku membalas uluran tangannya, “Dista.”

Awalnya aku merasa sangat aneh berbincang-bincang dengan laki-laki asing yang tak berhenti berbicara dihadapanku ini. Aku, yang notabene orang Jawa, sudah terlalu termakan paradigma janganlah-terlalu-akrab-dengan-orang-asing-yang-baru-dikenal yang selalu muncul di lingkungan masyarakatku. Tapi entah mengapa aku bisa melihat dari sinar matanya kalau dia itu orang baik. Titik.
Namun, tak lama kemudian aku pun merasa nyaman berbicara dengannya. Entah itu tentang semburat warna langit sore itu yang sungguh amat sempurna, tentang ilalang-ilalang yang tak pernah tak muncul disetiap lukisannya, tentang rutinitasnya ke Jogjakarta untuk sekadar menjual lukisannya atau berbagi cerita dengan para seniman disana, tentang jadwalku untuk pergi ke Jogjakarta dalam urusan tugas akhir kuliahku yang ternyata sama dengannya, aku merasa nyaman.

Dan setelah semua perbincangan-ringan-namun-mengena di gerbong restorasi tiap minggunya, akupun jatuh cinta padanya.

16 Juni 2008
“Hai, siap?” tanyanya.
Aku menjawab dengan anggukan, “yuk,” sambil kusambut gandengan tangannya.
Kami akan pergi ke taman bermain yang baru dibuka di kota ini beberapa bulan lalu. Sekalian merayakan hari ulang tahunku, katanya.
Seketika saja tawa kami berbaur jadi satu ditiap putaran merry-go-round ini. Cerita-cerita dari bibir kami pun mengalir di bianglala warna merah marun ini. Ada kejahilan yang dia lakukan ditiap gigitan kembang gula itu. Ada kecupan dan pelukan hangat dibawah rintik-rintik hujan yang turun itu.
Satu kata untuk hari ini: indah.

14 Februari 2009
Aku sudah tampak manis mengenakan pakaian terbaikku saat terduduk di gazebo depan rumah untuk menunggumu menjemputku. Tak sabar rasanya ingin kuberikan scrapbook buatanku untuk merayakan setahun hari jadi kita. One year? Wow, we’ve made it! Aku sedang membayangkan reaksimu saat melihat ada banyak sekali foto candidmu yang posenya ga banget kalau mengutip kata-kata Irsya, adikku, saat tiba-tiba terdengar dering Blackberryku.
“Cepat ke stasiun, ya! Aku tunggu kamu di tempat kita bertemu pertama kali,” katanya tanpa sedikitpun memberiku kesempatan untuk menjawab.

Aku mencoba mencarimu di kursi kayu tempat kita biasa menghabiskan waktu dengan bercerita sambil memandangi senja di ufuk barat. Nihil.
Aku mencoba mencarimu di peron, tempat kau biasa berbincang dengan bapak penjaga peron yang ternyata juga seorang seniman. Nihil juga.
Kamu dimana?
Ah iya, pasti tempat itu!

“Mengapa harus disini? Apa kita mau ke Jogja? Aku kan tidak membawa pakaian ganti satupun! Jangankan pakaian, dompet saja aku tak bawa,” cecarku saat melihatnya duduk di salah satu kursi di gerbong restorasi.
“Aku hanya ingin merayakan hari jadi kita sekaligus valentine pertama kita di tempat yang berbeda dari pasangan lainnya, apa itu salah?” ucapnya tenang sambil mengedipkan mata.
Aku tertawa melihatnya begitu. Aku bahagia sekali dengannya. Lelaki ceking sederhana itu.
Tiba-tiba aku merasa rasa bahagia ini akan bertahan di hidupku lebih lama lagi.
Bagaimana kau tahu, Dista?
Aku hanya tahu.

(Tulisan disadur dari blog penulis dengan sedikit perubahan)
Maruti Widihadiningtyas – @marutiwidi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2012 in #CeritaUntukKamu

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: