RSS

Bagai Mawar Di Belah Eddelweiss

11 Feb

#CeritaUntukKamu 11 Februari 2012

Jika Einstein berambut hitam panjang

Rumus itu tetap ada

Tak sesulit merubah kenyataan

Tak seperti membacamu

Senin jam satu siang. Dengan sudut tiga puluh lima derajat. Dengan duduk di barisan ketiga dan kamu selalu di barisan terdepan. Selalu. Di bangku yang sama. Kamu selalu duduk di situ. Dan aku di sini. Selalu menatapmu. Sambil sesekali melihat kearah dosen karena tempat kalian menetap selalu sejajar.

Mata kuliah ini sulit. Aku tahu. Lihat saja papan tulis putih – yang lebih kearah krem muda- yang selalu penuh dengan lambang integral itu. Yah, aku tahu. Lambang integral tak pernah absen di sana. Sama seperti lambang alpha, omega, dan lambang Fisika lainnya. Dan entah mengapa Sang dosen selalu menuliskan lambang itu di sana. Tak pernah bosan. Mereka lebih mirip pelukis dengan gaya abstrak dibandingkan dengan dosen fisika.

Aku tak begitu peduli dengan apa yang mereka tuliskan di sana. Mereka selalu membicarakan hal yang abstrak. Dan dunia ini terlalu sungkan untuk menerima hal abstrak. Sama seperti perasaan ini. Terlalu abstrak hingga tak bisa di ungkapkan. Jarak dua bangku ini lebih cenderung kearah paradoks. Dan aku adalah pertentangan dari paradoks.

Yang aku pedulikan sekarang bukan integral itu, bukan pula dosen itu, dan tentu saja bukan jarak-dua-bangku itu. Masalah ini abstrak, kawan. Yang kulihat dari kacamata ku ini hanyalah dirimu. Lebih jelasnya punggungmu yang selalu bisu. Dirimu yang selalu melihat kearah papan tulis abstrak itu. Kemudian melihat catatanmu yang merupakan kloning nyata dari lukisan di papan tulis itu. Kau goreskan hi-tech hitam-mu ke arah binder itu dengan rupawan. Menarikan jari jari kecilmu dengan gemulai.

Aku tak begitu tahu apa yang kau pikirkan. Tapi dengan sorot matamu yang penuh perlindungan itu menyiratkan bahwa kamu mengerti apa yang dimaksud dengan lukisan abstrak di depan. Seakan-akan kau adalah Picasso yang mencoba melukis gambar pemandangan. Tak begitu sulit.

Andaikan lukisan abstrak itu bisa lebih rapi. Andaikan jarak dua bangku ini bisa dilenyapkan melalui black hole. Andaikan sorot matamu itu bisa kubaca. Aku tak butuh lagi kacamata ini.

Kau tampilkan senyum sama kepada tiap orang

Kau tebar benih dengan itu

Walau tak sama

Di hatiku tumbuh mawar

Senin jam dua belas lewat empat puluh lima menit. Kali ini aku tidak sedang duduk di bangku-baris-ketiga itu. Papan tulis juga masih putih. Sang pelukis abstrak belum memulai khutbahnya. Kamu? Kamu bahkan belum datang.

Maka disinilah aku berdiri dipagar pembatas yang berada di tingkat kedua dari gedung ini. Di depan pintu kelas kita. Kelas dimana aku selalu melihatmu dari sudut tiga puluh lima derajat.

Senin adalah hari tersibuk di fakultas ini, lihat saja parkiran di ujung sana. Tak seramai hari biasanya. Ratusan sepeda motor berbaris rapi sepanjang parkiran. Membentuk garis lurus sepanjang mata memandang.

Sama halnya dengan parkiran. Koridor-koridor sepanjang lorong juga ramai. Banyak mahasiswa datang bergerombol. Kemudian berjalan beriringan sampai ke kelas. Ada juga yang berbaris dengan rapi karena koridor ini sempit. Tak banyak ruang yang tersisa ketika gerombolan mahasiswa lain sedang mengobrol di koridor ini.

Dari celah yang disisakan dari gerombolan itu, aku menangkap dirimu yang sedang berjalan tergesa-gesa melewati mereka. Langkahmu begitu yakin, tak tergesa-gesa. Tak lupa goresan yang kau lukiskan melalui bibirmu itu. Lukisan berupa senyum.

Yah, kau selalu tersenyum kepada tiap orang yang kau kenal. Tak peduli apakah suasana hatimu sedang bimbang, galau, ataupun sedih. Goresan itu yang selalu menghiasi kanvas wajahmu. Tak heran, banyak orang yang selalu mengartikan senyum-mu dengan makna yang berbeda.

Di sinilah aku, berdiri di hadapanmu. Dan seperti yang sudah kutuliskan di paragraph sebelumnya. Dan inilah hal paling madu yang aku tuliskan.

Kau tersenyum ke arahku.

Senyum paling indah yang pernah kulihat. Senyum yang bisa membuatku tidak konsen dengan lukisan abstrak ala integral. Senyum yang bisa membuat jarak-dua-bangku menjadi paradoks. Senyum yang membuat perasaan ini semakin abstrak

Senyum Mawar itu.

Kau tahu apa yang lebih kecil dari limit mendekati nol?

Pembicaraan kita

“Udah ngerjain tugas mekanika, yu?”

Senin jam dua belas lewat lima puluh menit. Kau mengatakan sesuatu padaku. Tak lupa senyum manis madu itu tertera di wajahmu.

Aku hanya bisa terpaku saat ini. Aku merasakan kata-katamu bagaikan dilatasi waktu menuju ruang tak terhingga. Membawaku pergi jauh jutaan tahun cahaya. Dan saat aku kembali ke bumi. Aku masih terbeku dalam usia sembilan belas tahun. Berdiri di lantai dua koridor gedung F. Memandangmu.

Dan aku hanya bisa menggeleng.

Lebih tepatnya, menggeleng dungu.

Kau pun tertawa melihat diriku yang tak ubah bagaikan hiasan anjing pada dashboard mobil. Selalu menggeleng.

Hitunganku tak pernah meleset. Dan ini adalah percakapan kedua kita. Di tempat yang sama. Dengan kata-kata yang sama. Dan tentu saja. Jawaban-menggeleng-ku yang sama.

Kini dosen itu datang. Aku pun masuk ke kelas itu. Kelas tiga-puluh-lima derajat.

Ku kira ini mawar

Tidak!

Salah!

Ini adalah edelweiss

            Senin jam setengah empat sore. Kali ini kampus sudah sepi. Menyisakan nyanyian kumbang pohon yang berfrekuensi rendah, tapi berirama. Samara-samar juga terdengar suara burung yang terkesan bagaikan nyanyian. Tapi jika kita lebih peka. Itu adalah suara tangisan, kawan. Suara tangis pilu dari binatang yang habitatnya telah kita renggut.

Parkiran juga telah sepi. Menyisakan banyak ruang bagi mobilku untuk dapat keluar dengan leluasa.

Kumasuki ruang kecil beroda empat itu dengan segera. Kuhidupkan mesin mobil. Kuputar kenop ac. Terasa angin sejuk menerpa wajahku. Sedikit angin untuk refreshing otak yang telah kering setelah terhanyut dalam integral yang abstrak.

Kupejamkan mataku untuk sejenak. Mengingat sosok dirimu yang mengisi pikiranku beberapa minggu terakhir ini. Sesaat ku berpaling kearah kanan.

Dan, hei! Kamu di sana. Berdiri di trotoar depan fakultas. Kamu berdiri di sana sambil menjinjing tas merahmuda. Mendekap buku-hallyday- yang dengan ketebalannya dapat membuat manusia dewasa pingsan dalam sekali pukul.

Yah, aku tahu. Kamu tidak bisa mengendarai sepeda motor. Bahkan sepeda. Dan kukira aku tahu alasan mengapa kamu berdiri di sana.

Kamu menunggu sesuatu.

Tapi apa?

Terlintas di pikiranku untuk mengantarmu pulang. Tapi sesuatu menahan kakiku untuk menginjak pedal gas. Ingin rasanya aku menggerakkan jempol kakiku untuk menginjak pedal gas ini. Tapi sesuatu yang sialan ini telah menahanku dengan lebih hebat.

BBBBBRRRRRUUUMMM!!!

Sebuah mobil Toyota Yaris berwarna merah cerah melintas di sampingku. Mobil itu berjalan dengan yakin. Dan dia berhenti. Tepat di hadapanmu. Dari mobil itu aku dapat melihat sesosok pria yang usia-nya sebaya denganku. Hanya saja lebih tampan.

Dia keluar dari mobil itu. Mendekatimu. Kemudian kalian saling tersenyum satu sama lain. kemudian kulihat pria itu berkata sesuatu padamu. Sesuatu yang dapat membuatmu tertawa sambil memukul bahunya yang kokoh.

Kemudian Pria itu membawakan barang-barangmu. Membukakan pintu untukmu. Dan dia pergi membawamu. Pergi dari hadapanku.

Kurasa aku tahu siapa pria itu.

Kuhidupkan tape mobilku. Terdengar lagu westlife yang tak asing

            Can’t believe that I’m the fool again

            I thought this love would never end

            How I was to know

            You never told me

            Pada akhirnya, mawar telah di belah oleh edelweiss.

sarat emosional, dirulis dengan indah oleh: @wahyusibulus

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2012 in #CeritaUntukKamu

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: