RSS

Dear You

11 Feb

#CeritaUntukKamu 11 Februari 2012

Perhatian dan kasih sayangmu kini tak menyentuhku. Semua rasa yang dulu terpaku kini berubah menjadi abu. Andai, andai aku tak pernah mengenalmu. Andai kau tak pernah merasuk dalam fikiranku. Andai namamu sungkan menyelusup ke dalam hatiku. Andai bahasa tubuhmu tak meyakinkanku. Aku mungkin tlah berkuasa merubah waktu seperti halnya yang ku mau.

Munafik! Aku membencimu, lebih tepatnya mencoba membencimu. Mengenyahkan kau dari sisiku, membuang nafas demi nafas yang hembuskan namamu. Aku tak pernah percaya bahwa cinta sesakit ini, semunafik ini, dan sebodoh ini. Dan semua itu berawal saat..

Wanda Larasati

Sabtu, 12-11-2011 10:00:03

‘TFT yaa Andri, Rima, Diki🙂 besok besok jangan bosen main lagi sama wandaa hehe’

“Apa maksud dari ucapannya? Apa maksud ‘Thanks For Today’ nya dia main sama Wanda? Kenapa harus ada nama Diki?” hening. Sejenak aku tertegun tepat di depan cermin kamarku sembari memegang ponsel merah kesayanganku. Beribu-ribu pertanyaan dan pernyataan negatif menghantui otakku. “Apa mungkin mereka jalan bareng lagi? Apa mungkin mereka balikan lagi? Tapi aku? Aku masih milik Diki kan?” aku tetap berusahapositive thinking, meskipun perasaanku berulang kali menolak.

#

Minggu, 13 November 2011. Aku mencoba kembali menghubungi Diki, hasilnya tetap saja nihil. Teleponku berulangkali di reject, begitupun semua pesan yang aku kirimkan tak satupun dibalas olehnya. Aku mulai putus asa.

Delivered To: Yunita Ramadhanty🙂

15:17:09

Yun, aku kerumah kamu ya. Ada yang ingin aku ceritakan’

Sender: Yunita Ramadhanty🙂

15:21:45

‘iya Cin, aku dirumah ko’

Sesampainya dirumah Yunita..

“Yun, aku mau cerita penting banget”

“apa Cin? Tentang siapa?”

“tentang Diki”

Belum sempat aku bercerita, tak disangka Diki dan beberapa orang temannya sudah berada di depan rumah Yunita. Tanpa sengaja aku mendengarkan perbincangan mereka, Andri dan Diki.

“Dik, kapan mau jalan bareng Wanda lagi?” Andri mengawali pembicaraan

“jalan lagi?”

“iyalah jalan lagi, Wanda kan kemarin ngajak kita lagi. Eh tapi, Cindy tau ngga kalau lo jalan sama Wanda?”

“kayanya sih engga, dan jangan sampai tahu laah” jawab Diki enteng.

Ternyata semua yang aku fikirkan selama ini benar, mereka memang pergi bersama. Sedikit rasa tak percaya menghampiriku, rasa tak percaya mengapa Diki tega pergi dengan ‘masa lalu’ nya itu. Ya, aku mengetahui itu, mengetahui bahwa Wanda adalah ‘masa lalu’ terbaiknya. Tapi masihkah ia menganggap aku kekasihnya? Jika iya, tak bisakah dia menghubungi dan meminta izin dariku? Aku terus mendengarkan percakapan mereka. Buru-buru ku seka air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Dengan modal ketegaran hati, aku berusaha menghampiri Diki.

“Dik, aku tahu semuanya”

“Cin, sejak kapan kamu disitu?” Tanya Diki setengah terkejut

“sudah cukup lama kalau hanya untuk mendengarkan pengakuan terbesarmu” tanpa fikir panjang, aku bergegas meninggalkan rumah Yunita dan Diki yang diam mematung.

#

Senin, 14 November 2011. Ku awali hari ini dengan setengah hati. Masih menumpuk perasaan gundah, gelisah bahkan kecewa yang ku simpan dalam hati. Berulangkali ku tengok layar ponsel ditangan kanan, berharap Diki menguhubungiku hanya untuk sekedar mengucapkan maaf. Tapi akhirnya..

Sender: Dikiii🙂

11:11:00

‘Cin, maafin aku ya. Aku ga ada niat buat nyakitin km, serius. Aku fikir aku ga baik buat kamu.. masih banyak laki-laki yang lebih baik dari aku.  Sebelum aku lebih dalem nyakitin kamu, mending kita sampai disini aja ya. Kamu gausah sedih, gausah difikirin. Kalaupun kita jodoh, ga akan kemana ko🙂 kita fokus sama kegiatan masing-masing dulu aja ya, aku gamau kamu kehilangan semangat gara-gara aku. Maaf ya Cin’

Tuhan, bukan ini yang aku harapkan. Bukan sebuah salam perpisahan, bukan permintaan maaf karna dia harus pergi meninggalkanku. Bukan semua ini yang aku inginkan😥

Perpisahan ini terjadi secepat aku mengenalnya, secepat dia masuk dalam kehidupanku, secepat aku mempercayainya. Dan disaat aku ingin memperbaiki semuanya, dia malah pergi menyisakan segenap luka tepat didasar hati ini. Kedua kakiku tak dapat lagi menopang tubuhku yang melemah, aku terjatuh. Kali ini aku tak sanggup lagi menyeka atau bahkan membendung air mataku, mereka menjadi saksi bisu betapa rapuhnya aku karna mencintainya. Tak dapat lagi ku lukiskan kekecewaan dan rasa sakitku padanya.


Kini, aku hanya bisa duduk diam merasakan semua penghianatanmu. Melihat pengorbanan dan pertahananku yang sia-sia. Dan aku hanya bisa tersenyum pahit menyaksikan bahagiamu diatas perihku. Aku tahu tak lama setelah aku berpisah denganmu, luka ku pun masih belum sembuh, kamu kembali dekat dengan ‘masa lalu’ mu. Meskipun sakit, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Masa lalumu begitu indah, aku tak kuasa menggantikannya. Hanya dia yang terbaik dimatamu, bukan aku. Bahagiamu adalah bahagianya, bukan bahagiaku. Air matamu adalah air matanya, bukan air mataku. Didalam fikiran dan benakmu hanyalah ia, bukan aku. Dan tak dapat ku pungkiri, sampai kapanpun dia adalah malaikatmu, dan aku tak bisa gantikan itu.

“bagaimana kabarmu Cindy?” tanyanya di telepon malam itu

“baik. Kamu?” jawabku sekenanya

“aku juga baik. Kamu jangan telat makan ya Cin”

“iya”

“Cin, aku menyayangimu”

“kamu serius?”

“iya Cin aku serius”


Kini, perhatian atau bahkan kasih sayangmu terasa percuma. Dulu aku memang membutuhkan itu. Tapi kini semua terasa sia-sia, tak ada sedikitpun rasa percayaku untukmu. Bahagialah bersamanya, tentunya tanpa aku :’)

“PADA SOROT MATAMU YANG TERIK, AKU MENJEMUR LUKA. BEGITU TEGA KAU BAKAR BAHAGIAKU” – Dear You

Yuana Gita Yanuari – @agitayuana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2012 in #CeritaUntukKamu

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: