RSS

I Love You More Than Cupcakes

11 Feb

#CeritaUntukKamu 11 Februari 2012

Hari ini aku sengaja bangun pagi-pagi sekali. Yup.. hari ini aku sengaja bangun pagi-pagi sekali karena aku ingin membuatkan kue kesukaan Tito, cupcakes coklat dengan taburan keju kering diatasnya. Aku membuatkan cupcakes untuknya karena hari ini adalah hari valentine. Seminggu sebelum hari valentine dia memberikanku rahasia bahwa di hari ulang tahunnya itu dia akan menyatakan perasaannya kepada seseorang yang sudah lama ia incar. Ia akan menyatakan hal itu ketika jam pulang sekolah, di taman depan gedung sekolah. Ia juga akan memamerkan permainan bass-nya saat itu. Sudah lama aku menunggu hari-hari seperti ini. Orang yang sudah lama aku sukai ternyata membalas perasaanku dengan hal yang sama. Selama hampir 3 tahun kami bersahabat akhirnya hari inilah dia akan menyatakan perasaannya.. kepada.. entahlah.. tapi aku berharap dan sangat-sangat berharap dia menyatakan perasaannya kepadaku.

     Aku melihat Tito yang sudah datang lebih dulu. Ia sedang membicarakan sesuatu dengan Anas, si kutu buku yang duduk di bangku depanku, lalu ia menoleh ke arahku dan memberikan senyum paling manisnya kepadaku. Saat itulah rasanya duniaku dipenuhi dengan bunga-bunga bermekaran. Aku menarik napas dalam-dalam. Berjalan dengan tenang  menuju bangku. Aku meletakkan tas ku diatas meja tapi aku masih tetap berdiri di sisi bangku. Memandang Tito yang sedang berbicara ringan dengan Anas. Dan.. ia terlihat sangat.. tampan.. Sampai aku tersadar bahwa mereka sedang menatapku dengan tatapan bingung.

“Mitha? Mitha? Hey!”, sambil menggerak-gerakkan tangannya ke depan wajahku. Aku sadar dan malu setengah mati. Aku berharap pipiku tidak berubah menjadi merah saat itu. “Kau kenapa?”, tanyanya lagi dengan suara lembut. “Oh.. tidak, tidak.. aku… Aku… Mengapa pula aku harus menjelaskannya kepadamu?”, jawabku. “Dan… ini… selamat hari valentine Tito.. aku berharap kau menyukainya..”

“Wow.. kau sungguh membuatnya untukku. Terimakasih Mitha!. Aku pasti menyukainya, karena aku tahu cupcakes buatanmulah yang membuatku melambung tinggi..”

“Kau berlebihan.. cupcakes buatanku sama seperti yang lain.. Ngomong-ngomong aku sudah tidak sabar menunggumu menyatakan cintamu kepada seseorang. Kau bisa mengatakannya padaku?”, tanyaku sambil duduk di bangku di samping Tito. “Kau akan tahu nanti..”, jawabnya. Lalu pergi keluar kelas. Aku menundukkan kepala.

“Apakah menurutmu dia akan menyatakan perasaannya kepadamu, Mitha?”, tanya Anas. “Entahlah..”, jawabku pelan tetap menatap meja. “Menurutku dia menyukaimu..”. Aku tidak membalas kalimat Anas yang terakhir karena saat itu bel pertanda jam pelajaran akan dimulai berbunyi.

     Seluruh siswa kelas dua belas sudah berkumpul di taman depan gedung sekolah yang luas. Mitha mengambil posisi paling depan agar Tito dapat melihatnya. Musik-pun mulai mengalun dan Tito memainkan bass-nya dengan penuh penghayatan. Sampai akhirnya permainan bass-nya selesai, dan inilah saat yang paling ditunggu Mitha.

      “Pada siang hari ini aku akan menjelaskan semua yang aku rasa. Aku sudah lama memendam perasaan ini namun sekaranglah saat yang tepat… Jemarinya yang indah membuat hatiku gundah, seperti ingin menggubahkan seribu lagu untuknya. Pipinya yang manis membuat hatiku tergelitik, seperti ada sesuatu yang menari-nari dalam perutku..”, katanya dengan penuh perasaan yang mendalam. “Dan sekarang aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa..”

Jantung Mitha semakin berdegup tidak karuan. Kedua tangannya menutupi mulutnya untuk menyembunyikan senyumnya yang kian melebar. Hingga akhirnya…

“Livia VanDerson, maukah kau menjadi kekasihku?”

Kata-kata yang baru saja diucapkan Tito seakan membakar senyum yang tersungging di bibir Mitha dan berganti dengan genangan air di sekitar kelopak matanya. Dengan melangkah mundur, Mitha meninggalkan kerumunan siswa yang sedang bersorak menyambut Livia yang maju mengampiri Tito  dan memegang kedua tangannya. Semua itu membuat Mitha seperti tercekik. Ia berlari menuju kamar mandi dan menangis disana.

     Sampai dirumah ia langsung berlari ke kamarnya dan membuka buku diary-nya. Menorehkan semua yang ia rasakan pada hari itu kedalam buku diary-nya. Membiarkan air matanya jatuh membasahi goresan  tinta di buku diary-nya. Menceritakan tentang bagaimana perasaan yang ia pendam selama ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Menumpahkan kepedihan yang hinggap di hatinya pada hari itu.  Hari dimana Tito dan Livia resmi menjadi pasangan kekasih yang sedang menjalin cinta.

     Tiga bulan kemudian adalah hari dimana kelulusan dimulai. Mitha berhasil meraih angka tertinggi dalam ujian. Ia sudah merencanakan bahwa ia akan meneruskan sekolahnya di New York dan tinggal bersama ayahnya. Sementara Tito masih tetap melanjutkan sekolahnya disini.

     Sehari sebelum keberangkatan Mitha ke New York, Tito berkunjung kerumahnya. Ketika akan pergi ke kamar mandi ia tidak sengaja melihat kamar Mitha dalam keadaan pintu yang terbuka lebar. Tito mengintip sejenak kamar Mitha karena selama ini ia samasekali belum pernah melihat-lihat kamar Mitha. Seketika ia dibuat takjub dengan apa yang dilihatnya. Di dinding dekat kasur Mitha ia melihat sebuah tulisan yang dibuat dari karton putih yang dibentuk menyerupai permainan “scrabble” bertuliskan I Love You More Than Cupcakes. Saat itulah Tito menyadari bahwa selama ini Mitha sengaja menyembunyikan perasaannya terhadapnya.

     “Sekarang kau mengetahuinya, bukan?”, suara Mitha yang tiba-tiba muncul di belakang Tito.

     “Mitha aku… aku minta maaf..”, kata Tito sedikit gugup.

     “Kau tidak usah khawatir… aku merelakan semuanya..”, jawabnya dengan nada lembut.

     “Tapi..”

     “Aku akan baik-baik saja..”

     “Tapi apakah…”

   “Aku bahagia Tito, selama kau juga bahagia.. Karena kau sahabat terbaik yang pernah kutemukan sepanjang masa..”, jawab Mitha yang memotong perkataan Tito.

    “Apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku?”, tanya Tito agak ragu sambil menatap mata Mitha.

     “Kau tidak bersalah. Tidak ada yang bersalah. Tapi.. sebelum aku berangkat ke New Tork, aku ingin kau mengabulkan permintaanku..”

      “Apapun..”

    “Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah melupakanku. Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku..”, “Dan berjanjilah bahwa kau akan setia menjadi sahabatku.. selamanya..”,tambahnya sambil memegang kedua bahu Tito. Berusaha menahan air mata yang mulai memburamkan penglihatannya. Berusaha melupakan masa-masa dimana ia menyaksikan Tito dan Livia resmi menjadi pasangan kekasih.

dari penulis yang mengolah konflik dengan baik: @nimaaas

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2012 in #CeritaUntukKamu

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: