RSS

ketika kenyataan membuatku berhenti berharap

11 Feb

#CeritaUntukKamu 11 Februari 2012

Sembab, itu yang kudapat setelah semalam berkawan dengan kesedihan. Pagi ini mentari telah bersinar, aku harus bersiap kembali menjalani hari. Namun hatiku kukuh tak ingin beranjak menyapa kehidupan. Di sisi lain pikiranku menolak. Ia ingin beranjak, menapaki kehidupan seperti biasa. Ia ingin menunjukan bahwa keadaanku baik-baik saja. Waktu terus berlalu, terbuang sia-sia untuk berpikir menuruti pikiran ataukah hati. Kumantapkan langkah beranjak dari kasur empuk. Menata diri untuk menjalani hari.

Pagi itu, jalanan cukup sepi membuatku tertantang untuk memacu motorku lebih kencang. Hati ini masih belum bisa untuk bersikap tidak apa-apa. Tak terasa air mata menetes mengiringi perjalananku. Memori itu kembali terbuka.

Adit, cowok dengan sejuta sikap yang membuatku nyaman. Aku mengenalnya setahun yang lalu. Dulu, aku menganggapnya biasa. Tak ada yang istimewa darinya. Namun setelah beberapa minggu terakhir aku dekat dengannya, kutemukan banyak hal istimewa dalam dirinya. Didekatnya aku mulai merasa nyaman. Dibahunya aku berbagi dan dipeluknya aku menangis. Dia menenangkanku saat hati ini kacau. Kusadari sekali lagi bahwa senyumnya begitu indah. Senyum tipis namun menenangkan yang selalu ingin kulihat.

Malam itu, seperti biasa aku terpaku didepan layar komputer. Sebuah pernyataan seorang kawan mengejutkanku. Bukan pernyataan yang baik untuk hatiku. Seketika air mata menetes, deras. Tak bisa kumembendungnya setelah selesai membaca‘berita gembira’ ituSoal Adit, kini senyumnya sudah ada yang memiliki.Senyum yang dulu menenangkan sekarang tak ada lagi. Pedih, itu yang kurasa. Kini kenyataan membuatku berhenti berharap. Kurelakan harapanku lamunanku mimpi indahku pergi mengalir bersama tangisanku. Ironis, aku harus (pura-pura) tersenyum menyambut kebahagiaannya bersama seseorang yang sangat sempurna.

Memori itu kubawa sampai dikelas yang sepi, amat sepi. Aku tertunduk mengenang semua, mempersiapkan hatiku untuk segalanya. Kudengar langkah kaki memasuki ruang kelas. Tetap hening dan aku masih tertunduk. “Udahlah, Dis. Nggak usah dipikirin lagi. Tuhan punya rencana yang lebih baik buat kamu. Belajarlah ikhlas dan sabar. Ini bukan akhir dari semuanya. Bukalah pikiran dan kamu akan menemui banyak hal menarik disekitarmu”, ujar Dhika, sahabatku yang sejak beberapa detik lalu duduk disampingku.
“Iya, aku tau..tapi itu susah. Aku nyesel Dik, bukan nyesel sama Tuhan tapi sama diriku sendiri. Kenapa harus dia yang aku sayangi lebih?”, kataku sambil tertunduk dengan air mata yang mengalir deras.
“Udah.udah.tenang.Aku percaya kamu bisa jalanin semuanya. The show must go on, Dis” ucap Dhika menyemangatiku.
Seketika sepi menyapa aku dan Dhika. Kita sama-sama terdiam, terlarut dalam lamunan masing-masing. Ya, memang benar apa yang Dhika katakan. Hidupku harus terus berjalan, berputar seiring berjalannya waktu.

penulis: @diktyadiktya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: