RSS

Tentangnya, yang aku kagumi

12 Feb

#CeritaUntukKamu 12 Februari 2012

Entah bagaimana cerita awal dirinya mengenalku. Bagaiaman dirinya bisa tau aku, namaku. Hingga butuh waktu singkat untukku mengetahui pasti cerita kesehariannya. Waktu yang singkat pula untuknya menyukaiku.

“sudahlah, aku juga harus sabar ris, menantimu”, satu pesan singkat darinya.

Tak terhitung berapa banyak pesan yang dia kirim ke ponsel bututku. Berbekal satu kali pertemuan.

“Charisma Amanda. Sekeras apapun hatimu, sebesar apapun halangan, setinggi apapun tembok penghalang, aku akan tetap mengejarmu. Sampai aku mendapatkanmu. camkan”

Mungkin dia sudah lupa bagaimana caranya menyayangiku. Dan mungkin dia juga sudah lupa peristiwa dimalam hari raya ketika dia menyuruhku mengangkat telepon darinya. Ketika dia berkata, “kamu gak perlu ngomong, dengarkan saja aku ‘takbiran’”. Nafasku sedikit tercekat mendengar dia melantunkan baris demi baris bacaan takbir. Suaranya menusuk, menelusup lembut dalam telingaku. Merdu.

Kali ini aku yang lupa, alasan mengapa aku mengatakan tidak padanya. Namun pendiriannya tetap kuat untuk menjadikanku kekasihnya. Kuingat juga ketika dirinya datang kerumah, ketika dirinya memperbaiki laptop milikku, lalu ketika aku bertanya bagaimana caraku membayar kebaikannya. Dia berkata, “bayar saja pakai jawaban”.  Ucapannya lembut sambil memasang senyum simpul dibibirnya.

Dengan sedikit memaksaku untuk mengatakan iya. Perlahan segala ucapan, kisah hidup, serta perilakunya mampu membuat bibir dan hati ini mengatakan iya.  Dirinya, si cerdas. Ketua umum Jam’iyah Diba’ Tathmainnul Qulub, mantan siswa salah satu SMK dan mantan OSIS SMKN yang sama periode 2008-2010, penggemar berat raja dangdut Roma Irama, penggemar berat tokoh dahlan Iskan, penggemar berat Gusdur, partai PKB dan organisasi NU, benar-benar gila akan bola. Aku ingat bagaimana dia mengemukakan pendapatnya saat menonton pertandingan bola.  Ahh rasanya masih banyak hal yang harus aku ketahui tentangnya. Dan semua hal yang sudah aku ketahui selalu hebat dimataku.

Dirinya mengajarkan aku akan banyak hal. Dan aku mengagguminya. Namun, aku selalu takut ketika dia mulai berkata, “aku sayang kamu, pokoknya sayang titik”

“aku gak akan pernah, janji aku gak akan nyusahin dan hianatin kamu”

“semoga cinta kita bisa menjadi bintang dan terus tumbuh walau panas hujan”

“semoga saja aku berhasil memasuki pintumu, dan terkunci didalamnya sampai kapanpun”.

Aku takut. Lalu ketika dia bilang, “1.Allah 2.Rasulullah 3.Al-quran 4.Al-Hadist 5.Ibu 6.Bapak 7.para sesepuh, guru dan para ulama assalafus sholeh 8.Charisma Amanda”.

Aku takut semua perkataannya hanya sekedar perkataan, sama seperti laki-laki yang lainnya.

Aku menulis ini ketika kulantuntan lagu milik Ipang, Bintang hidupku. Lirik sederhana. Sesederhana aku menyayanginya. Aku bertahan dalam hubungan ini. dalam ketakutan yang tidak jelas asal mulanya. Ketika orang tuaku menanyakan tentangnya. Entah mengapa mereka begitu khawatir ketika aku berkata aku sedang dekat dengannya. “Maafkan aku masih belum bisa mengatakan banyak hal tentangmu, kepada kedua orang tuaku”

Betapa bahagianya ketika dia bilang kepada sahabatku, aku adalah khumairoh, merah delima nya. Aku sungguh bahagia.  Aku masih terus mengagguminya.

Bagaimana cara dia berpendapat, bagaimana cara dia memandang kerasnya hidup, kerja keras ketegasan, pendirian, dan bagaimana cara dia mencintaiku. Pertengkaran kecil memang selalu hadir, dan aku merasa tidak dapat berbuat banyak. walaupun ada banyak gejolak untuk melawan, tapi aku tak bisa. Aku tak sehebat dirinya. Tak sehebat lontaran pendapat yang dikemukakannya. Aku merasa rendah.

Dirinya masih mengatakan hal yang selalu sama “aku sayang kamu”, namun aku semakin tidak perduli. Aku capek dengan tingkah dan sikapnya yang mulai dan mungkin sudah mulai berlebihan. Seakan-akan dia menganggap dirinya selalu benar, ingin selalu menjadi seorang pemenang. “Apa aku sudah jemu mengartikan pola pikirnya?”, dalam hati.

Aku sudah terlalu benci menangis, aku juga sudah terlalu lelah.

 

Malam itu, kalimat pendek sependek pikiranku saat itu. Kata putus aku lontarkan dengan begitu mudahnya. Aku menagis lagi, tapi aku merasa keputusanku memang benar. Kuhapus air mataku.

Pertengkaran demi pertengkaran kecil  semakin menjadi. Saling menyalahkan. Tapi dia memang begitu berbeda dengan lainnya. Sangat berbeda bahkan. Dirinya masih berusaha keras meyakinkanku bahwa dirinya benar-benar menyayangiku. Aku mengingat kembali, sekali lagi. apapun tentangnya. Perlakuannya dan sikapnya terhadapku, kelemah lembutannya. Walau memang terkadang berubah menjadi seseorang yang kasar dan dingin ketika dalam puncak kemarahannya. dan yang paling penting adalah bagaimana kesabarannya menghadapi keegoanku, serta segala usahanya agar hubungan kami kembali membaik seperti dahulu.

Dia berbeda. Dia terus berusaha agar hubungan kami kembali.

“aku berbicara senagai pria, bukan cowok”, tegasnya.

“tapi apa pacaran itu harus serba instan? Kan sama-sama berusaha menutupi kekurangan masing-masing”, ujarnya. “kenapa kamu kok begini sekarang?”, pertanyaan yang selalu diulang.

“aku gak akan berbohong, hatiku tetap untukmu. Semarah-marahnya aku, tetap hatiku untukmu”

Setelah aku berniat ingin selamnya pergi, rasa takut yang luar biasa menghantuiku. Aku takut tidak ada lagi sosok sepertinya, aku taku bener-benar kehilangannya. Tapi aku harus ingat, “berani berbuat berani bertanggung jawab. Berani membuat keputusan juga berani mengambil resikonya” seperti apa katanya.

Pertemuan pertama setelah aku mengatakan kata putus. Sungguh sesuatu yang berat harus menatap matanya. Kemudian memberikan alasan yang mungkin bukan suatu alasan. Kali ini aku menang dan merasa hebat karena berhasil memutar-mutar masalah. Hingga dalam pertemuan itu kami tidak menemukan inti permasalahan.

“Lalu bagaimana denganku?”, berkali-kali dia bertanya. Nafasnya begitu terlihat sesak.

“Memangnya ada apa denganmu?”, kataku balik. Sebuah pertannyaan yang seharusnya tidak aku tanyakan. Dia memalingkan wajanya kesal. Matanya yang sayup menatapku, mengisyaratkan sesuatu. Dia menahan langkahku untuk pergi. Suasana berubah hening.

Sebelum kami berpisah karena harus pulang kerumah masing-masing. Aku berkata dengan suara yang terdengar penuh keterpaksaan. “dengarkan aku. sebetulnya aku tidak ingin kamu pergi. Aku takut kehilanganmu”

Mungkin hal itu yang memaksanya mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah dikatakan sebelumnya.

“sudahlah. Sekarang kalau kamu ‘sayang’ lho apa buktinya. Yang penting aku gak Cuma ngomong”

“aku cuma ingin bukti dari rasa sayangmu entah itu ada apa tidak. Aku cuman ingin bukti”

Pada puncaknya, Ketika aku sudah tidak lagi bisa sabar mendengar seribu kata-kata bijak yang dikatakannya. Ketika dia mulai tidak berkata lembut lagi.

dia mengungkapkan segala kesalahannku selama bersamanya. Kekecewaanya terhadap sikapku. Kebodohanku. Mengungkap kesalahanku yang tidak pernah berbicara langsung padanya ketika ada masalah,

“sebaik-baiknya wanita adalah wanita yang bisa menjaga aib rumah tangganya. kenapa kamu gak ngomong langsung, apa salahku,Aku harus gimana. Tetap kamu gak mau jawab”

“cabalah ngomong lansung. Jangan hanya di BLOG. Bedakan mana yang pantas dan yang tidak”

“bedakan mana konsumsi public, mana masalah pribadi. Aku seperti ini karena banyak alasannya”

“coba rasakan apa yang di alami orang lain. Jangan cuma ingin menjadi diri sendiri”

“yasudah pokoknya ingat satu hal, jangan seperti ini. terima baiknya ya harus bisa terima kejelekannya. Berani berbicara langsung itu lebih baik”

“maaf, kalau omonganku gak enak, lebih baik gini dari pada mengumbar keburukan seseorang pada orang lain”

Aku hanya terdiam, terpaksa membiarkannya melontarkan pendapatnya itu.

Dan lagi, aku sudah pada posisi yang memang sudah tidak ada harapan lagi untuk mengelak dan  membela diri. Aku salah, benar-benar terbukti aku salah.

Bodohnya aku berfikir bahwa aku adalah tempat dimana dia menumpahkan segala amarah dan kekesalannya ketika ia mulai merasa lelah dengan duniannya. Melalui telepon saat itu, aku terisak mendengarnya yang masih saja melontarkan seribu fakta kesalahanku.

Aku meminta maaf berulang kali padanya. Dan dia masih tetap dia. Selalu saja bersikap dewasa.  Yang terkadang membuatku jengah menyamakan sikapku yang kekanak-kanakan dengan pola pikirnya yang sebegitu dewasa. Dia bertanya dengan begitu lembutnya.

“lalu bagaimana sekarang?”, diulangnya berkali-kali.

“aku tidak ingin kehilangan kamu, aku sayang kamu”, jawabku. malu.

Diapun bertanya apa kesalahan dan apa yang diperbaiki dari dirinya. Walau terbata, tapi perlahan aku bisa mengatakan banyak hal dan melontarkan pendapatku sendiri, tentangnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 02:34 dini hari. Dipenghujung pembicaraanku dengannya, dia mengucap salam dan menyuruhku untuk segera tidur.

“assalamu’alaikum”

“maaf”, kataku pelan.

“iya-iya sayang”, ujarnya sanagat lembut. Nafasnya terdengar di telepon. Aku tersenyum sambil memeluk guling yang basah karena banyaknya air mata yang kutumpahkan.

 

Mata yang terlihat begitu bengkak seakan-akan menjadi bukti bahwa aku menagisi seseorang yang berarti dalam hidupku. Sampai saat inipun, aku tak henti berfikir, memutar otak menerka apa yang telah terjadi.

Bagaimana bisa dirinya menyayangiku? Aku bukan perempuan pandai yang mengoleksi banyak lembaran kertas bertuliskan juara olimpiade ini dan itu. Aku bukan perempuan cantik yang memiliki dua buah lesung dimasing-masing pipi, berkulit putih, tinggi dan berhidung mancung, aku juga bukan perempuan cerdas yang pandai berbicara dimuka umum sepertinya, aku bukan perempuan berkarisma seperti namaku sendiri.

Lalu, bagaimana bisa dirinya mencintaiku?

Aku teringat kembali dahulu dia pernah menjawap pertanyaan yang sama. dan aku yakin dirinya mencintaiku dengan tulus, aku juga yakin dia bisa mengubah sikapku, kesalahanku.

“tapi aku gak pernah mempermasalahkan. Aku gak peduli. Rasa sayangku mengalahkan semuanya. Karena aku tidak mencintai kesempurnaan. Tapi aku berusaha mencintai kekurangan”

Semoga bukan suatu kebetulan aku mengenalnya. Bagaimana mungkin aku meyesal telah dicintainya.

‘Maafkan aku. Aku tidak bisa berhenti menulias apapun tentangmu. Banyak hal yang seharusnya aku tulis. Maafkan aku sering merasa bukan seseorang yang penting dalam hidupmu. Ternyata, aku penting buatmu. Begitupun sebaliknya. Terima kasih buat apa yang sudah kau lakukan untukku. Aku bahagia dengan caramu mencintaiku’

@charismanda

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 12, 2012 in Uncategorized

 

3 responses to “Tentangnya, yang aku kagumi

  1. softbarbie

    Februari 14, 2012 at 3:31 pm

    how sweet that song..🙂
    you wrote like a love song

     
  2. bang saad

    Februari 18, 2012 at 1:51 pm

    cuman bisa geleng-geleng kepala dan berkata dalam hati. “saoloh, sebegitu galaunya kah ni anak?”

     
  3. charismanda

    Februari 18, 2012 at 1:53 pm

    waw.. great writer commented. thank you🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: