RSS

Ya Tuhan, Maafkan Aku.. Lagi..

12 Feb

#CeritaUntukKamu 12 Februari 2012

 

“Hey.. Bolehkah aku bertanya padamu?”

“Emm… Apa aku pernah melarangmu untuk bertanya?”

“Aku rasa tidak.”

“Kalau begitu, kau bisa bertanya langsung padaku.”

“Ehm.. Apa cinta itu tak harus memiliki?”

“Menurutku iya.”

***

Malam ini aku kembali memikirkannya. Memang bukan hal yang menyenangkan, tapi pikiranku selalu tertuju padanya. Pada setiap kalimatnya yang mengatakan bahwa dia menyayangiku. Entah mengapa, tapi aku merasa bahwa semua ini tidak sesuai dengan kenyataan. Dia.. Dia terlalu baik padaku. Semua ketulusan cintanya, sikapnya terhadapku, perhatian yang dia berikan, rasa khawatirnya. Ah, semuanya.. Wajahnya yang menyenangkan. Senyumnya yang membiusku. Membuatku melayang. Tawanya yang selalu memerdukan setiap suara yang masuk ke telingaku. Cara bicara dan tutur kata yang lembut. Membuat innerbeauty yang begitu memukau. Dan semua tentangnya yang membuatku merasa I’m the first..

Tapi sayangnya.. Orang baik tak selalu mendapatkan perlakuan yang baik pula. Aku selalu meragukannya. Ah bukan.. Dia sama sekali bukan tipikal orang yang meragukan dan tidak bisa dipercaya. Justru aku yang meragukan diriku sendiri. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaanku terhadapnya. Perasaan ini menggantung begitu saja dihatiku. Sejak sebulan yang lalu, dia menunjukkan segala kebaikan dan ketulusan cintanya padaku. Dan aku menerimanya dengan pintu hati yang ternganga. Aku pikir ini akan menjadi awal yang indah, oleh sebab itu aku selalu tersenyum membalasnya. Setelah memutuskan untuk mengakhiri kesedihan yang pernah terekam dimasa lalu, aku berusaha untuk membiarkannya masuk begitu saja dalam memori kehidupanku. Dan akhirnya, semua berjalan apa adanya. Benar – benar apa adanya.

“Boleh aku mengatakan sesuatu?”

“Tentu saja. Aku tak pernah melarangmu untuk mengatakan apa saja yang ingin kau katakan.”

“Aku mencintai dan menyayangimu..”

Aku melamun. Lama… sekali. Kalimat itu terasa menari – nari dikepalaku.. Aku mencintai dan menyayangimu.. Aku mencintai dan menyayangimu.. Aku.. Aku merasa pusing..

Sampai akhirnya dia bertanya lagi padaku,

“Kenapa diam? Kau tidak ingin membalasnya?”

Aku tersenyum sembari berkata,

“Cinta dan kasih sayangmu sudah terbalas, sayang..”

Dia tersenyum bahagia kepadaku.. Aku menundukkan kepala.

Awalnya aku tak mau mengatakannya, sebab saat itu aku memang masih belum memiliki perasaan istimewa terhadapnya. Bahkan aku tak mau menerima cintanya. Tapi dia terus memaksaku dengan kelembutan perasaannya. Bukan maksud menyalahkan, tapi dia yang terus-terusan memintaku untuk menerimanya. Padahal aku sudah mengatakan bahwa aku masih ragu. AKU masih RAGU. Dalam keadaan yang masih labil, semua itu terasa absurd. Dan dia tetap berusaha meyakinkanku bahwa dia menerimaku apa adanya dengan segala perasaanku. Dia yakin bahwa suatu saat aku akan mencintainya. Sampai akhirnya aku tak punyai alasan lagi untuk tidak menerimanya.

Hiks.. Tahu-kah kau, kejadian seperti itu terjadi tidak hanya sekali. Itu adalah dosa yang ke-sekian kalinya yang telah aku lakukan. Hanya untuk memekarkan senyumnya. Kenapa aku melakukan dosa itu lagi? Betapa kejamnya aku? Ya Tuhan.. bagaimana caranya agar aku bisa berkata jujur, jika di setiap aku melihat senyumnya, aku terkaku.. Aku sama sekali tak ingin menyakitinya.. Aku tak ingin kebahagiaannya memudar. Aku tak mau kehilangan senyum itu.. Aku tak mau tawa itu hanyut oleh kesedihan yang aku tancapkan.. Aku berusaha memantapkan hatiku bahwa ini semua belum berakhir. Aku pasti baik – baik saja. Bukankah masih ada waktu? Ya.. Memang masih ada banyak waktu. Aku bisa menggunakan waktu itu untuk memperbaiki keadaan sekaligus belajar mencintai dan menyayanginya dengan tulus.

“Sayang..”

“Ya?”

“Tahukah kau bahwa aku sangat menyayangi dan mencintaimu?”

“Hmm…. Bukankah kau sudah mengatakannya berkali-kali?”

“Jadi, kau sudah tahu?”

“Hhahaha.. Bagaimana mungkin aku tidak tahu, kau selalu mengucapkannya setiap hari? Ingat?” Aku memalsukan tawaku.

“Hehehe… Dan kau tak ingin mengatakan hal yang sama, padaku?”

“Oh tentu saja aku ingin. Aku juga menyayangimu..” Aku langsung menggigit bibir bawahku agar air mataku tidak terjatuh. Dia tersenyum. Tulus.

Aku membalas senyumnya. Sakit sekali. Kemudian aku menunduk. Tabiatku benar-benar sempurna, sekarang.

Dia selalu mengatakan bahwa dia menyayangi dan mencintaiku. Selalu.. Bahkan setiap hari. Dan aku selalu tercekat ketika mendengarnya. Ingin sekali aku mengatakan hal yang sama, tapi kalimat – kalimat itu seperti tersangkut di tenggorokanku. Aku tak bisa membohonginya terus – terusan. Sampai akhirnya aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ya. Senyuman yang aku paksakan. Selalu seperti itu. Tak jarang, dia memprotes kepadaku. Kenapa tidak dibalas? Baru setelah itu aku membalasnya.

Dia mempunyai banyak impian yang “seharusnya” dia wujudkan bersamaku. Dia yakin bahwa dia bisa mewujudkannya bersama gadis yang dia cintai, yaitu aku. Tapi lagi – lagi aku meragu.

“Sayang.. Apa kau tidak berminat untuk menulis cerita kita?”

Aku terkaget, apa itu petir? Batinku.

“Masih belum kutulis.. hehe” Ku jawab sambil sedikit tertawa. Tertawa yang memaksa.

“Belum? Maksudnya?”

“Umm… Kenapa bukan kau saja, yang menulis?” Aku tersenyum. Terpaksa.

“Oh ya.. Itu ide yang bagus. Kita tulis bersama – sama. Setelah itu kita bisa menerbitkannya. Untuk awalnya, kita bisa share ke blog, facebook dan twitter.” Dia tersenyum senang.

Aku tersenyum.. pahit.

Ya Tuhan, maafkanlah aku yang lagi – lagi harus menanggung dosa karena kesalahan yang sama. Sebenarnya aku sudah menulis cerita tentang kita.. Inilah cerita kita yang sesungguhnya, sayang..

Aku sedih.. Sedih sekali. Semua ini terasa berat. Membebani. Dan.. membuatku risih. Aku ingin melepaskannya.. Membuka semua tipuan. Terbebas tanpa harus menanggung rasa bersalah. Tuhan.. bantu aku..

“Sayang.. aku ingin kau tahu, bahwa kau selalu kusebut di setiap ku berdoa..”

“Benarkah?”

“Iya.. Kau mau tahu apa yang aku doa’kan untuk kita?”

“Oh tentu saja.. Jika itu perlu, kau bisa mengatakannya padaku.” Lagi – lagi aku memaksakan diri.

“Aku berdoa.. semoga Allah selalu menyatukan kita, mendekatkan kita.. Aku ingin kita selalu bersama selama waktu yang diberikan Allah kepada kita.. Semoga Allah mengampuni segala dosamu dan keluargamu, baik dimasa silam maupun yang sedang terjadi.. Amin..” Dia tersenyum, sangat tulus.

 

Aku hanya tersenyum haru sambil memandangnya. Aku bahagia, bisa mengenal orang yang begitu baik padaku. Tapi, semakin dia berlaku baik padaku, aku akan semakin menyakitinya. Aku semakin membohonginya, dan membohongi diriku sendiri. Ini bukan aku. Ini hanya topeng.

Jika kau memang berniat bersamaku hanya pada saat Allah memberikan waktu, maka aku berdoa semoga Allah segera menunjukkan waktu, dimana kita sudah tidak diberi waktu untuk bersama. Maafkan aku.. Tapi aku menantikannya..

Lihatlah.. Betapa munafiknya aku? Betapa tidak-tahu-dirinya aku? Dia memberikan segala kebaikan dan ketulusannya, tapi aku justru membalasnya dengan kebusukkan dan kebohongan. Aku seperti lalat bau yang dia tutupi dengan parfum melatinya. Aku racun, dan dia obatnya. Dia memberiku susu, tapi aku justru memberinya air tuba. Bukan balas budi, tetapi lebih seperti balas dendam.

Ya Allah.. Serumit inikah? Bukankah, kisahku ini sederhana? Dia mencintaiku, sederhana seperti orang membuang sampah pada tempatnya. Tapi aku? Aku hendak membuang sampah, tetapi aku bingung mencari – cari dimana tempat sampahnya? Padahal tempat sampah itu ada didepan mata. Bahkan aku juga bingung, apakah yakin aku akan membuang sampah ini?

Ya Allah.. Aku hanya ingin melepasnya, bukan membuangnya. Membiarkan dia pergi, bukan mengusirnya. Biar dia pergi mencari wanita yang jauh lebih baik daripada aku. Dan yang pasti, menyayanginya. Bukan hanya dalam kata-kata saja, melainkan tulus dari hati, sama seperti yang dia lakukan selama ini. Aku ingin sekali berkata jujur padanya, dengan ketulusan kata – kata yang akan kurangkai sedemikian lembutnya. Tetapi tetap saja. Ini akan menjadi pisau tajam yang akan menancap pasti, dalam hatinya.

Aku tahu.. Ini akan sangat menyakitkan. Tapi aku tak sanggup untuk terus-terusan berselimut senyum. Semakin aku membalas kata cintanya, semakin aku memupuk kesakitan dalam hatinya.. juga hatiku. Aku selalu menabung dosa di setiap kebohonganku kepadanya. Haruskah aku menjadi orang lain yang berpura – pura mencintainya? Tidakkah kau lihat, hubunganku sudah tidak sehat. Mungkin aku masih bisa memperbaiki perasaanku terhadapnya? Masa bodoh ! Aku lelah melukis kebohongan. Aku lelah menabung dosa. Aku lelah menjadi orang yang bukan aku. Aku benar-benar lelah bersembunyi dibalik topeng kepalsuan.

Aku menguatkan hatiku. Memutuskan untuk menyiapkan amunisi kejujuran yang hendak kutembakkan padanya. Kasihan sekali dia.. Aku, kekasih pertamanya, telah membuatnya menangis 3 kali.. Dan sekarang, aku juga yang akan membunuh hatinya. Menyisakan kesan buruk dalam sepanjang hidupnya tentang cinta. Biarlah. Ini akan menjadi dosaku yang terakhir terhadapnya.

Tapi apa yang akan aku katakan nanti, apa yang akan kurangkai? Sampai sekarang-pun aku tak tahu apa jawabannya. Inilah yang membuatku semakin pilu. Di saat aku sudah yakin bahwa aku akan jujur kepadanya, aku malah bingung kenapa selama ini aku berbohong kepadanya. Aku ingin mengakhirinya, tapi aku tak tahu apa alasannya. Aku benar – benar telah membuat kisah ini menjadi sangat rumit.

Dan malam ini adalah puncaknya. Dengan sangat hati-hati aku mencoba menggali semua dosa yang telah aku lakukan padanya. Kebohonganku, tabiatku, semuanya.. Semuanya kukatakan dengan gaya pujangga yang menciptakan karya dengan bahasa yang mendayu – dayu. Berharap pisauku kali ini tidak akan melukainya. Sedikitpun. Tetapi bodohnya aku. Selembut – lembutnya pisauku, akan tetap menggores luka dihatinya. Pisau tetaplah pisau. Kami berdebat sangat panjang, sampai larut malam, sampai handphoneku kehabisan daya baterai. Dan kau tahu, ternyata kebaikannya masih terus berlanjut. Dia tetap memuji – mujiku, mengatakan bahwa dia menyayangi dan mencintaiku tulus dari hati, dia juga mengatakan bahwa dia tak akan membenciku meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan yang paling penting, dia memaafkanku. Bahkan dia mendoakanku, agar semua dosaku sekaligus keluargaku selalu dimaafkan oleh ALLAH SWT. Kau lihat? Apa yang kurang darinya?

“Mendengar semua yang telah kau katakan, apakah aku harus membuang kalimat itu?” Senyumnya hilang.

“Kalau kau tidak merasa sakit karenanya, kau tetap boleh mengatakannya..”

“Pikirku, tak akan ada gunanya aku mengatakannya kalau kau tak pernah membalasnya.” Sedikit keras.

“Bukan hanya pikiranmu saja, tapi aku juga. Tidak ‘kah kau sadar, mengapa aku jarang membalas kalimatmu itu? Selalu ada beban di saat aku akan membalasnya.”

“Apalagi yang harus aku lakukan agar kau tidak pergi meninggalkanku? Agar kau menyayangiku? Agar kita bisa tetap bersama seperti beberapa jam yang lalu? Aku ingin kita bahagia layaknya sepasang kekasih pada umumnya.. Aku terus berusaha dan akan selalu berusaha.”

“Kau tak harus melakukan apapun karena akupun tak akan melakukan apa – apa. Kau tak perlu lagi berusaha terus – terusan agar aku bisa mencintai dan menyayangimu. Sudah cukup aku menyakitimu. Sadarlah. Semakin kau berusaha, maka semakin subur pula rasa sakit yang telah ku tanam dihatimu.” Aku berusaha menyamarkan suaraku yang sudah parau.Ya ALLAH, kuatkan aku..

“Apakah ini adalah hasil dari semua doaku selama ini?” Dia bertanya sambil membendung air mata.

Ya ALLAH, air matanya sudah menggantung dan bersiap terjun. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Entah kenapa, aku bisa merasakan sakitnya. Sangat sakit. Dan ini adalah akibat dari pisauku.

“Maafkan aku.. Sejak awal semua ini memang kesalahanku. Aku tak pernah bermaksud menyakitimu. Tapi percayalah, kita akan baik – baik saja. Semua kepedihan ini akan segera berlalu. Kau mau menerima pisauku ‘kan?” Suaraku semakin parau. Dan akupun menangis. Tapi aku buru – buru berdiri membelakanginya dan menghapus air mataku. Berharap hujan turun agar tangisan ini tersamarkan.

“Mau tak mau, pada akhirnya aku-pun akan menerima pisau darimu. Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal. Tapi aku tak mau membahasnya. Aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa waktu akan terus berjalan. Begitu juga denganmu yang akan melenyapkan keraguanmu bersama dengan waktu itu. Dan selanjutnya kau akan menyayangiku seperti aku menyayangimu. Dengan tulus.. Bukan hanya sebatas membalas kalimat saja.” Suaranya bergetar dan aku yakin, sedetik lagi dia akan menangis. Tapi ternyata aku salah. Dia sangat kuat untuk tetap menahan air matanya.

“Apa kau belum mengerti? Semakin aku membalas kalimat cintamu, semakin aku memupuk kesakitan dalam hatimu. Aku tak mau menyakitimu terus – terusan. Semua itu hanyalah tabiat seorang gadis bodoh yang tidak tahu diri..” Sambil menatap mata indahnya, aku merasa lemas, mengatakannya.

“Tidak.. Itu tidak benar. Kau tak boleh berkata seperti itu. Bagiku, kau adalah gadis yang terbaik. Aku yakin kau telah bisa merasa bahagia, saat bersamaku. Aku bisa merasakan senyum senang dan tawa bahagiamu, sayang.. Meskipun rasa cintamu kepadaku berbeda dengan rasa cintaku kepadamu. Sudahlah.. Kau tak perlu menangis. Aku menerima semua ini dengan lapang dada. Jangan menangis lagi.. Kau bisa sakit, kalau menangis terus.. Aku tak mau melihatmu sakit tak berdaya. Tersenyumlah..” Dia menunjukkan segala ketulusannya untuk yang kali kesekian. Dia memegang bahuku, mata kita bertemu. Dan dia berusaha tersenyum kepadaku. Astaga. Dia makhluk-Mu yang akan menjadi orang teristimewa untukku, Tuhan..

“Aku memang merasa sakit, dengan semua ini.. Tapi aku yakin, ada orang yang jauh lebih sakit dibandingkan-ku.” Aku berusaha kuat untuk terus menatap matanya.

“Sudahlah, sayang.. Aku tak akan membencimu. Aku akan tetap menyayangimu walaupun penuh dengan air mata yang terbendung. Kau tak perlu berkata seperti itu. Kau tak salah. Tak ada yang salah diantara kita. Perasaan seseorang memang tak bisa dipaksakan. Lagipula, bukankah kau pernah mengatakan bahwa cinta tak harus memiliki?” Dia menatap mataku dengan sangat lembut dan menyentuh hati. Seketika itu, aku langsung menangis dalam syahdunya.

“Heyy.. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk berhenti menangis?”

***

Dihari berikutnya, dia mengatakan suatu hal yang membuat jantungku berdegup kencang.

“Siapa yang mengatakan bahwa hubungan kita sudah berakhir? Katakan padanya, bahwa dia salah besar.”

“Hah? Jadi, kita masih…? Aku pikir kau telah menerima pisauku?”

“Memangnya siapa yang berkata seperti itu? Aku kan hanya menerima saja, bukan berarti aku mau.”

Kalau dia tidak mau, lalu kenapa dia menerimanya? Seketika itu aku langsung berpikir bahwa dia bodoh.

“Kita masih menjadi sepasang kekasih dan melewati suka dan duka bersama?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku pikir jawabanmu, tidak.”

“Aku tidak tahu.” Padahal dalam hati aku berkata, “Ya. Kau pintar, sekarang.”

“Aku tetap berpegang teguh dengan cintaku.”

Aku diam. Padahal dalam hati aku berkata, “Dan aku tetap berpegang teguh dengan keputusanku.”

Kemudian aku berkata, “Aku hanya ingin sendiri, tanpa ada beban..”

“Tanpa aku?”

“Kau bukan beban..”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin sendiri. Bukan berarti kamu harus pergi dari hidupku. Kita tetap bisa bersama, tapi dengan jarak yang jelas.”

“Maksudnya bagaimana?”

“Teman.”

“Ya Tuhan, aku tak bisa.. Rasa sayang dan cintaku padamu bukanlah sebagai teman.. Tapi lebih dari sekadar teman.”

“Kalau semua itu tidak menyakitimu, aku akan tetap menerimanya. Entah dengan balasan atau tidak. Aku hanya ingin kau mengerti tentang jarak kita.” Aku mengatakannya dengan sangat hati – hati.

“Tapi aku tetap ingin bersamamu, sayang..” Suaranya melemah.

“Kita akan tetap bersama, tapi kita bukan lagi sepasang kekasih..”

Dia diam lumayan lama. Dan kemudian berkata,

“Baik. Aku mengalah.”

“Terima kasih. Kau adalah orang teristimewa dengan perasaan teristimewa yang pernah aku kenal. Tak akan berubah.”

“Sembilan hari yang sangat berarti untukku. Begitu membahagiakan. Terima kasih, untuk seseorang.”

“Terima kasih?”

“Iya. Tenanglah.. Seseorang itu bukan kamu. Dia berbeda denganmu.”

“Dia memang bukan aku. Aku tahu itu.”

“Kau tahu? Dia telah pergi kesurga. Dia menungguku disana. Aku sudah tak sabar untuk bisa bertemu dengannya. Mengulang sembilan hari yang membuatku bahagia. Sembilan hari yang tak akan pernah aku lupakan. Menjadikan sembilan hari berubah menjadi selamanya.”

“Semoga dia benar menunggumu.”

“Tentu saja dia akan menungguku.”

Entah kenapa, emosiku berubah dengan cepat. Dia membuatku merasa benar – benar berbeda. Aku sudah bukan orang yang dia kenal 24 jam yang lalu. Posisiku dengan “gadis itu” memang sudah berbeda, meskipun raganya tetap sama.

“Aku ingin menyusulnya kesurga. Kalaupun tak bisa, setidaknya aku bisa menyampaikan satu hal. Bahwa aku sangat menyayangi dan mencintainya. Maukah kau membantuku untuk menyampaikannya?”

“Kenapa harus aku?” Tanyaku, cepat.

“Aku mohon..” Dia memelas.

“Jadi, kau memohon padaku untuk menyusulnya kesurga?” Mulai dari sini, nadaku berubah.

“Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin kau mendoakannya, serta menyampaikan salamku tadi..”

“Mendoakannya? Bukankah kau yang selalu berdoa untuknya?”

“Baiklah, baik.. Aku sendiri yang akan menyampaikannya. Aku yakin bahwa dia menginginkanku untuk tetap semangat menjalani hidup. Meskipun tanpa ada dia, di hidupku. Mungkin aku akan memulai hidup baruku dengan menyayangi dan mencintaimu terlebih dulu.”

“Hebat sekali, kau bisa tahu.”

Dia tersenyum dan sedikit tertawa. Aku tidak tahu apa artinya. Aku tak bisa melihat ketulusannya lagi.

“Terima kasih, kau telah sudi untuk mendengarkan cerita pendekku.” Tersenyum.

“Iya.”

“Aku mengatakan terima kasih, padamu..” Suaranya lebih keras.

“Dan aku mengatakan iya, padamu..” Suaraku juga lebih keras.

“Entah kenapa.. aku merasa kau berbeda saat aku mulai memabahasnya. Kau kenapa?”

“Benarkah? Aku tidak merasa seperti itu. Mungkin hanya perasaanmu saja.”

“Ya. Mungkin kau benar. Aku menyayangimu.” Dia tersenyum. Tulus.

Aku hanya diam.

“Mulai hari ini dan seterusnya, akan berbeda dengan hari – hariku sebelumnya. Ini akan menjadi hari terberat yang akan aku lalui. Aku rasa aku tak bisa melewatinya sendirian.”

“Heyy… Tidakkah kau lihat bahwa aku masih ada disini dan tak pergi meninggalkanmu?”

Dia tertawa dan kemudian berkata,

“Kalau ada orang yang bertanya tentang status kita, katakan padanya bahwa kita bukan lagi sepasang kekasih, melainkan special relationship.”

***

Hari berikutnya dia kembali membahas status hubungan kami yang telah berubah. Dia tegas sekali saat mengatakan bahwa dia ingin membuat kesepakatan denganku. Aku yakin dia telah memikirkan kesepakatan ini semalaman. Aku kurang suka dengan nada bicaranya. Tapi bukan berarti aku tak suka dengan maksud pembicaraannya.

“Ini adalah keputusan yang paling berat untukku. Dan ‘mungkin’ juga untukmu.” Dia memberi penekanan saat mengatakan ‘mungkin’.

“Tak apa. Katakan.”

“Berjanjilah. Berjanjilah padaku bahwa tak akan ada orang ke-tiga, empat, lima, dan seterusnya dalam special relationship ini. Hanya akan ada kita berdua yang menjalaninya. Kalau kau memutuskan untuk mengingkari kesepakatan ini, aku akan pergi menjauh dari kehidupanmu. Meskipun sangat berat dan aku tak mau melakukannya. Tapi demi kebaikan kita, aku harus tetap melakukannya. Karena di saat itulah kau sudah tak menghargai perasaanku. Biar aku membawa pergi pisaumu sendirian.”

Astaga.. Aku tercengang. Nadanya bicaranya berubah 360 derajat. Seakan – akan dia mengancamku. Ada pesan tersirat disana. Secara tidak langsung, dia melarangku untuk mengenal dekat dengan laki-laki lain. Entah perasaan apalagi ini. Aku bingung. Apakah aku harus senang mendengarnya? Atau aku harus sedih karena dia berniat akan meninggalkanku?

“Maafkan aku yang telah membuatmu memilih keputusan berliku seperti itu..”

“Ini benar – benar keputusan yang sangat berat.. Keputusanku yang paling tak bertanggung jawab. Kita memang masih bisa bersama dalam special relationship  ini, tapi apakah kau tak bisa menjalani ini semua dengan pikiran yang bebas dan tak terbebani? Karena, jika kau mau tahu, ini sama sekali tak mudah untuk ku lakukan.. Aku tak bisa melepas semua ini begitu saja. Tak semudah membalik telapak tangan..”

Hah? Nadanya berubah lagi, sekarang. Seakan – akan dia menunjukkan bahwa aku menganggap semua ini mudah untuk dijalani. Kau salah !

“Kau pikir ini semua mudah untuk ku jalani? Kau pikir aku bisa dengan mudahnya berpidato panjang lebar tentang perasaanku kemarin? Di awal saat kau mengatakan perasaanmu padaku, aku sudah memutar kepalaku untuk membuat keputusan. Harus di apakan perasaanmu itu? Apakah aku harus memupuknya? Atau justru membunuhnya? Tapi kemudian aku berpikir ulang. Bukankah masih ada waktu yang bisa kugunakan untuk belajar membalas perasaanmu? Tapi kemudian, dengan seiring waktu berjalan, aku semakin bisa merasakan perasaanku yang sebenarnya. Hari demi hari, perasaan ini justru membebaniku. Aku bingung, bagaimana caranya aku mengatakan ini padamu? Aku tak mau menyakitimu, tapi aku juga tak mau membohongimu terus-terusan. Ini seperti simalakama, kau tahu? Aku mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan akhirnya, aku dihadapkan dengan resiko yang memang sudah sepantasnya aku terima.” Suaraku bergetar. Lagi-lagi aku harus berpidato tentang perasaanku yang menyedihkan.

“Maaf. Mungkin ini semua memang salahku. Aku memang terlalu cepat untuk mengatakan perasaanku.”

Aku hanya diam.

“Aku tak bisa melakukan semua ini..” Suaranya melemah.

“Bukan tak bisa, hanya saja butuh waktu..”

Dia menghela nafas, “Aku akan melewati saat suka dan duka bersamamu dengan jarak kita masing – masing. Bismillah..”

“Terima kasih.”

“Oh ya.. sebenarnya aku masih mempunyai satu pertanyaan untukmu. Pertanyaan ini selalu muncul dipikiranku.”

“Apa?”

“Apakah kau masih belajar untuk menyayangi dan mencintaiku?”

Aku diam. Aku bingung harus menjawab apa. Aku masih bingung dengan perasaanku. Apa aku harus berkata iya? Oh tidaaaakk ! Aku tak mau berbohong lagi.. Bukankah kebohonganku sudah ku akhiri? Atau aku harus berkata bahwa aku sudah lelah dengannya? Tidak.. tidak.. tidaaakk ! Aku tak mau memberinya pisau lagi.. Dan akhirnya….

“Kalau kau mau mengajariku, kenapa aku menolak?”

Arrrggghh….. Tidaaaaaaaakkk…. Kebohonganku yang terakhir? Aku salah besar. Nyatanya aku masih saja membohonginya… Aku ingin menangis.

“Aku.. Aku bahagia sekali mendengarnya.. Kau baik sekali masih mau memberiku kesempatan. Aku tahu. Aku harus lebih sabar untuk mengajarimu.. Aku akan berusaha lebih keras. Terima kasih, sayang..” Dia haru..

Aku.. Aku lemas. Aku menghela nafas panjang. Ya Tuhan.. Maafkan aku.. lagi..

penulis @VitaNo_ 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 12, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: